-->

Pengaruh Kolonialisme Portugis

Agama
Menurut Denys Lombard, umat Kristen tua Indonesia adalah Katolik. Penyebaran agama ini dimulai jauh sebelum kedatangan bangsa Portugis, yaitu sejak abad XIV. Pada abad itu, sejumlah rohaniwan Katolik singgah di Nusantara. Salah satunya adalah Odorico de Pordonone, yang mengadakan perjalanan dari Eropa ke Tiongkok. Pada tahun 1321, ia singgah di istana Majapahit dan Bandar Lamuri di Aceh. Seorang rohaniwan Fransiskan yang bernama Joao de Marignolli mengikuti jejaknya dan tercatat pernah diterima dengan baik di istana Samudera Pasai pada tahun 1347. Akan tetapi, penyebaran agama Katolik dengan pengaruh yang lebih besar terjadi pada saat kedatangan bangsa Portugis di Nusantara. Komunitas Kristen yang dipengaruhi bangsa Portugis tersebar di Kepulauan Maluku dan daerah tertentu di Kepulauan Sunda Kecil, seperti Nusa Tenggara Timur.

​Misionaris terkemuka yang datang ke Maluku adalah Fransiskus Xaverius, seorang anggota Serikat Yesus. Ia mengunjungi Ambon, Ternate, dan Halmahera antara tahun 1546 hingga 1547. Misionaris lainnya adalah para biarawan dari Ordo Fransiskan dan Dominikan. Mereka memperkenalkan agama Katolik di kalangan penduduk Nusa Tenggara Timur, yang berpusat di Larantuka (Flores Timur). Selanjutnya, mereka menyebarkan agama Katolik ke Minahasa, Bolaang Mongondow, Pulau Siau, Sangihe Talaud, Blambangan, dan Panarukan. Agama Katolik yang dibawa bangsa Portugis dan juga Spanyol berkembang sangat baik di Flores dan Timor (Timor Barat dan Timor Leste). Saat ini, pengaruh Portugis masih dapat ditemukan dalam bentuk warisan nama-nama yang dipakai orang Timor dan Flores bagian timur yang mirip dengan nama-nama orang Portugis, seperti da Cruz, da Costa, dan Cunha, de Rozari, da Gomes, Fernandez, dan Rodriquez. Selain itu, perayaan keagamaan warisan Portugis masih bisa disaksikan setiap tahun melalui perayaan Tri Hari Suci di Larantuka, yang dikenal dengan sebutan upacara Semana Santa.

Kesenian
Pengaruh Portugis dalam bidang kesenian tampak pada musik keroncong. Kita masih bisa menemukan peninggalannya di Kampung Tugu, Jakarta Utara. Penduduk awal kampung ini berasal dari berbagai koloni Portugis di Malaka, Pantai Malabar, Kalkuta, Surate, Koromandel, Goa, dan Srilanka. Pada abad XVII, mereka diboyong Belanda ke Batavia sebagai tawanan perang. Di Batavia mereka ditempatkan di Gereja Portugis (sekarang Gereja Sion di Jl. Pangeran Jayakarta). Sebagian besar dari mereka kemudian pindah ke Kampung Tugu. Musik keroncong berasal dari musik Portugis abad XVI yang disebut fado, dari bahasa Latin yang berarti nasib. Musik ini tadinya populer di lingkungan perkotaan Portugis. Awalnya fado merupakan sejenis nyanyian bersuasana ratapan yang dibawa para budak kulit hitam dari Cape Verde, Afrika Barat, ke Portugal sejak abad XV.

​Lambat-laun, fado berkembang menjadi lagu perkotaan dan mengiringi tari-tarian. Tarian yang diiringi fado dipengaruhi budaya Islam yang dibawa bangsa Moor asal Afrika Utara ketika menaklukkan Selat Gibraltar di bawah pimpinan Panglima Tariq ibn Ziyad pada abad VII Masehi. Setelah dipengaruhi Islam, tarian tersebut dinamakan moresco. Moresco adalah tarian hiburan para elite Portugis yang biasanya dibawakan oleh penari dari bangsa Moor. Alat musik pengiring moresco adalah gitar kecil bernama cavaquinho.

​Gitar ini dibawa para pelaut Portugis dalam era penjelajahan samudra. Ketika masuk Nusantara, alat musik tersebut digunakan untuk menyanyikan lagu pengiring tarian moresco. Karena suara yang dikeluarkan berbunyi crong-crong, masyarakat Nusantara menamai musik pengiring tarian tersebut keroncong. Selain Jakarta, jejak-jejak peninggalan budaya Portugis dalam bidang kesenian masih membekas di beberapa tempat di Nusantara, seperti Maluku Utara, Maluku Tengah, Ambon, Solor, dan Flores.

Bahasa
​Dalam bidang bahasa, banyak kosa kata Portugis diserap ke dalam bahasa Indonesia. Sebagai contoh armada (armada), bendera (bandera), gereja (igreja), keju (queijo), lemari (almario), minggu (dominggo), misa (missa), dan sepatu (sapato).

Sumber : Hapsari, Ratna dan M. Adil. 2017. Sejarah Indonesia Untuk SMA/MA Kelas XI. Jakarta: Erlangga, hal. 107-108
Lihat Komentar