1.
Latar
Belakang Masuknya Jepang ke Indonesia
Masa
pendudukan Jepang di Indonesia (1942 – 1945) merupakan periode yang sangat
penting dalam sejarah bangsa Indonesia. Pada masa ini telah terjadi berbagai
peruabahan yang mendasar pada alam sendi – sendi kehidupan masyarakat Indonesia. Perubahan –
perubahan yang terjadi itu merupakan dampak dari pendudukan Jepang yang sangat
menekan dan sangat memeras.
Sejak pengeboman Pearl Harbour oleh angkatan udara Jepang pada 8
Desember 1941, serangan terus dilancarkan ke angkatan laut Amerika. Selain itu,
serangan Jepang juga diarahkan ke Indonesia. Serangan terhadap Indonesia
tersebut bertujuan untuk mendapatkan cadangan logistik dan bahan industri
perang, seperti minyak tanah, timah, dan aluminium. Sebab, persediaan minyak di
Indonesia diperkirakan dapat mencukupi kebutuhan Jepang selama Perang Pasifik.
Kedatangan
Jepang di Indonesia merupakan bagian dalam usahanya membangun suatu imperium di
Asia. Munculnya Imperilisme Jepang itu didorong oleh beberapa faktor. Salah
satu faktor yang penting ialah keberhasilan Restorasi Meiji di Jepang yang
berdampak pada proses modernisasi di berbagai bidang kehidupan. Modernisasi tersebut
berimplikasi pada persoalan-persoalan yang sangat komplek seperti kepadatan
penduduk, lapangan pekerjaan, bahan mentah, dan daerah pemasaran hasil
produksinya.
Bahkan
sebagai akibat dari kemauan Industri di Jepang, ditemput strategi ekpansi untuk
mencari bahan mentah dan daerah pemasaran baru. Selain, didorong oleh factor
ekonomi, imperialisme Jepang didorong oleh filasafat Hakko Ichiu, yaitu ajaran
tentang kesatuan keluarga umat manusia. Jepang sebagai negara yang telah maju,
mempunyai kewajiban “mempersatukan bangsa-bangsa di dunia dan memajukannya”.
Ajaran tersebut merupakan dorongan psikologis sebagai legitimasi moral politik
ekspansionisme Jepang ke wilayah – wilayah lain.
Pada
tanggal 1 Maret 1942, sebelum matahari terbit, Jepang mulai mendarat di tiga
tempat di Pulau Jawa, yaitu di Banten, Indramayu, dan Rembang, masing-masing
dengan kekuatan lebih kurang satu divisi. Pada awalnya, misi utama pendaratan
Jepang adalah mencari bahan-bahan keperluan perang. Pendaratan ini nyatanya
disambut dengan antusias oleh rakyat Indonesia. Kedatangan Jepang memberi
harapan baru bagi rakyat Indonesia yang saat itu telah menaruh kebencian
terhadap pihak Belanda. Tidak adanya dukungan terhadap perang gerilya yang
dilakukan oleh Belanda dalam mempertahankan Pulau Jawa ikut memudahkan
pendaratan tentara Jepang. Melalui Indramayu, dengan cepat Jepang berhasil
merebut pangkalan udara Kalijati untuk dipersiapkan sebagai pangkalan pesawat. Hingga
akhirnya tanggal 9 Maret tahun Showa 17, upacara serah terima kekuasaan
dilakukan antara tentara Jepang dan Belanda di Kalijati.
2.
Kronologi Masuknya Jepang di Indonesia
Pada Januari
1942, Jepang mendarat dan memasuki Indonesia. Tentara Jepang ini masuk ke
Indonesia melalui Ambon dan menguasai seluruh Maluku. Meskipun pasukan KNIL (Koninklijk
Nederlandsch Indisch Leger) dan pasukan Australia berusaha menghalangi,
tapi kekuatan Jepang tidak dapat dibendung. Daerah Tarakan di Kalimantan Timur
kemudian dikuasai oleh Jepang bersamaan dengan Balikpapan (12 Januari 1942).
Jepang kemudian menyerang Sumatra setelah berhasil memasuki Pontianak.
Bersamaan dengan itu Jepang melakukan serangan ke Jawa (Februari 1942). Jepang
menerjunkan pasukan payung ke Palembang, Sumatra, pada 14 februari 1942, dan
berhasil menguasainya dalam waktu dua hari. Jatuhnya Palembang ke militer
Jepang membuat pintu pertahanan Pulau Jawa terganggu. Pada tanggal 1 Maret
1942, kemenangan tentara Jepang dalam Perang Pasifik menunjukkan kemampuan
Jepang dalam mengontrol wilayah yang sangat luas, yaitu dari Burma sampai Pulau
Wake di Samudra Pasifik. Setelah daerah-daerah di luar Jawa dikuasai, Jepang memusatkan
perhatiannya untuk menguasai tanah Jawa sebagai pusat pemerintahan Hindia
Belanda.
Untuk
menghadapi gerak invasi tentara Jepang, blok sekutu yang terdiri atas Belanda,
Amerika Serikat, Australia, dan Inggris membentuk Komando Gabungan Tentara
Serikat yang disebut ABDACOM (American British Dutch Australian Command) yang
bermarkas di Lembang. Letnan Jenderal Ter Poorten diangkat sebagai Panglima
ABDACOM. Namun kekuatan ABDACOM tidak mampu menyelamatkan Hindia Belanda dari
kekalahan. Sementara itu, Gubernur Jenderal Carda (Tjarda) pada Februari 1942
telah mengungsi ke Bandung.
Dalam
pertempuran di Laut Jawa, Angkatan Laut Jepang berhasil menghancurkan pasukan
gabungan Belanda-Inggris yang dipimpin oleh Laksamana Karel Doorman. Sisa-sisa
pasukan dan kapal Belanda yang berhasil lolos terus melarikan diri menuju
Australia. Sementara itu, Jenderal Imamura dan pasukannya mendarat di Jawa pada
tanggal 1 Maret 1942. Pendaratan itu dilaksanakan di tiga tempat, yakni di
Banten dipimpin oleh Jenderal Imamura sendiri. Kemudian pendaratan di Eretan
Wetan-Indramayu dipimpin oleh Kolonel Tonishori, dan pendaratan di sekitar
Bojonegoro dikoordinasi oleh Mayjen Tsuchihashi. Tempat-tempat tersebut memang
tidak diduga oleh Belanda jika ternyata digunakan pendaratan tentara Jepang.
Sementara itu Jepang tidak menyerang Jakarta, karena pada saat itu Jakarta
disiapkan oleh Belanda sebagai kota terbuka.
Selain tentara
gabungan ABDACOM, ditambah satu kompi Kadet dari Akademi Militer Kerajaan dan
Korps Pendidikan Perwira Cadangan di Jawa Barat. Di Jawa Tengah, telah
disiapkan empat battalion infanteri, sedangkan di Jawa Timur terdiri tiga
batalion pasukan bantuan Indonesia dan satu batalion marinir, serta ditambah
dengan satuan-satuan dari Inggris dan Amerika. Meskipun demikian, tentara
Jepang mendarat di Jawa dengan jumlah yang sangat besar, berhasil merebut tiap
daerah hamper tanpa perlawanan.
Pasukan
Jepang dengan cepat menyerbu pusat-pusat kekuatan tentara Belanda di Jawa.
Tanggal 5 Maret 1942 Batavia jatuh ke tangan Jepang. Tentara Jepang terus
bergerak ke selatan dan menguasai kota Buitenzorg (Bogor). Dengan mudah
kota-kota di Jawa yang lain juga jatuh ke tangan Jepang. Akhirnya pada tanggal
8 Maret 1942 Jenderal Ter Poorten atas nama komandan pasukan Belanda/Sekutu
menandatangani penyerahan tidak bersyarat kepada Jepang yang diwakili Jenderal
Imamura. Penandatanganan ini dilaksanakan di Kalijati, Subang. Penyerahan
Belanda kepada Jepang kemudian dikenal
dengan Kapitulasi Kalijati. Dengan demikian, berakhirlah penjajahan Belanda di
Indonesia. Kemudian Indonesia berada di bawah pendudukan tentara Jepang.
Gubernur Jenderal Tjarda ditawan. Namun, Belanda segera mendirikan pemerintahan
pelarian (exile government) di Australia di bawah pimpinan H.J. Van Mook.
Ketika daerah Tarakan di Kalimantan Timur
kemudian dikuasai oleh Jepang bersamaan dengan Balikpapan (12 Januari 1942).
Jepang kemudian menyerang Sumatera setelah berhasil memasuki Pontianak.
Bersamaan dengan itu Jepang melakukan serangan ke Jawa (Februari 1942).Pada
tanggal 1 Maret 1942, kemenangan tentara Jepang dalam Perang Pasifik
menunjukkan kemampuan Jepang dalam mengontrol wilayah yang sangat luas, yaitu
dari Burma sampai Pulau Wake. Setelah daerah-daerah di luar Jawa dikuasai,
Jepang memusatkan perhatiannya untuk menguasai tanah Jawa sebagai pusat
pemerintahan Hindia Belanda.
Dalam upaya menguasai Jawa, telah terjadi
pertempuran di Laut Jawa, yaitu antara tentara Jepang dengan Angkatan Laut
Belanda di bawah Laksamana Karel Doorman. Dalam pertempuran ini Laksamana Karel
Doorman dan beberapa kapal Belanda berhasil ditenggelamkan oleh tentara Jepang.
Sisa-sisa pasukan dan kapal Belanda yang berhasil lolos terus melarikan diri
menuju Australia. Sementara itu, Jenderal Imamura dan pasukannya mendarat di
Jawa pada tanggal 1 Maret 1942. Pendaratan itu dilaksanakan di tiga tempat, yakni
di Banten dipimpin oleh Jenderal Imamura sendiri. Kemudian pendaratan di Eretan
Wetan-Indramayu dipimpin oleh Kolonel Tonishoridan pendaratan di sekitar
Bojonegoro dikoordinir oleh Mayjen Tsuchihashi. Tempat-tempat tersebut memang
tidak diduga oleh Belanda.
Untuk menghadapi pasukan Jepang, sebenarnya
Sekutu sudah mempersiapkan diri, yaitu antara lain berupa tentara gabungan
ABDACOM, ditambah satu kompi Akademi Militer Kerajaan dan Korps Pendidikan
Perwira Cadangan di Jawa Barat. Di Jawa Tengah, telah disiapkan empat battalion
infanteri, sedangkan di Jawa Timur terdiri tiga battalion pasukan bantuan
Indonesia dan satu batalion marinir, serta ditambah dengan satuan-satuan dari
Inggris dan Amerika. Meskipun demikian, tentara Jepang mendarat di Jawa dengan
jumlah yang sangat besar, sehingga pasukan Belanda tidak mampu memberikan
perlawanan. Pasukan Jepang dengan cepat menyerbu pusat-pusat kekuatan tentara
Belanda di Jawa. Tanggal 5 Maret 1942 Batavia jatuh ke tangan Jepang. Tentara
Jepang terus bergerak ke selatan dan menguasai kota Buitenzorg (Bogor). Dengan mudah kota-kota di Jawa yang lain juga
jatuh ke tangan Jepang. Akhirnya pada tanggal 8 Maret 1942 Jenderal Ter Poorten
atas nama komandan pasukan Belanda/Sekutu menandatangani penyerahan tidak
bersyarat kepada Jepang yang diwakili Jenderal Imamura. Penandatanganan ini
dilaksanakan di Kalijati, Subang. Dengan demikian berakhirlah penjajahan
Belanda di Indonesia. Kemudian Indonesia berada di bawah pendudukan tentara
Jepang. Gubernur Jenderal Tjarda ditawan. Namun Belanda segera mendirikan
pemerintahan pelarian (exile government)
di Australia di bawah pimpinan H.J. Van Mook.
3.
Tujuan Masuknya Jepang di Indonesia
Sejak pengeboman Pearl Harbour oleh angkatan Perang
Jepang pada 8 Desember 1941, serangan tersebut seolah-olah tak dapat dibendung
oleh Amerika Serikat. Pasukan Jepang berhasil menghancurkan basis-basis militer
Amerika seperti di Filipina. Kemudian serangan Jepang juga diarahkan ke
Indonesia. Serangan terhadap Indonesia bertujuan untuk mendapatkan cadangan
logistik dan bahan industri perang, seperti minyak bumi, timah, dan aluminium.
Sebab, persediaan minyak di Indonesia diperkirakan dapat mencukupi kebutuhan
Jepang selama Perang Pasifik.
Kekuatan
invansi Jepang di Jawa menunjukkan jumlah yang lebi besar daripada jumlah
kekuatan pihak Sekutu. Pertempuran-pertempuran di Jawa berakhir dengan
kemenangan pihak Jepang dalam waktu singkat. Jepang tidak hanya ingin
mengenyahka kekuasaan politik bangsa Barat di kawasan Asia Pasifik, sebagaimana
yang dicita-citakan menjadi “Tuan Besar” di Asia Pasifik. Invasi militer atau
perang di korbarkan oleh Jepaang tersebut bagi bangsa di Asia Tenggara
khususnya Indonesia dirasakan sebagai suatu malapetaka baru atau paling tidak
dirasakan sebagai suatu penderitaan dan kesengsaraan bagi rakyat Indonesia,
yang perang tesebut selama ini telah di jalankan oleh pemerintah kolonial
Belanda. Rakyat tidak hanya mengalami penderitaan lahiriah karena kekurangan
pangan dan sandang yang kemudian mengakibatkan kelaparan dan kematian.
Perlu dipahami bahwa pada saat Jepang ini memasuki
Indonesia sudah membawa kultur dan ideologi fasisme. Jepang sudah menjadi
negara fasis. Fasis—fasisme adalah paham atau ideologi. Fasisme dapat dimaknai
sebagai sistem (sistem pemerintahan), di mana semua kekuasaan berada pada satu
tangan seorang yang diktator dan otoriter. Dalam mengembangkan kehidupan
berbangsa menjadi sangat nasionalistik (chauvinistik),
elitis, dan rasialis. Penataan kehidupan sosial dan ekonomi sangat ketat,
sentralistik dalam sebuah korporasi pemerintah yang otoriter di bawah pemimpin
yang diktator. Fasisme ini mula pertama berkembang di Italia pada tahun 1922
dengan tokohnya Benito Mussolini. Kemudian pada tahun 1933 berkembang di
Jerman, yang selanjutnya berkembang juga di Jepang.
Keinginan Jepang menguasai Indonesia, karena Indonesia kaya akan sumber
daya alam yang dapat di manfaatkan untuk pengembangan industri Jepang,di
samping itu ,juga terdorong oleh ajaran yang berkaitan dengan Shintoisme
,khususnya tentang Hakko Ichiu ,yakni ajaran tentang kesatuan kelurga umat
manusia ,ajaran ini di terjemahkan bahwa tentara Jepang sebagai negara maju
bertanggung jawab untuk membentuk kesatuan keluarga umat manusia dengan
memajukan dan mempersatukan bangsa-bangsa di dunia termasuk Indonesia. Ajaran
tersebut menyatakan bahwa bangsa Jepang dan Indonesia serumpun.
Jepang dengan slogan Hakko Ichiu yang diperkenalkan oleh Kaisar Jimmu adalah doktrin
untuk menguasai dunia dan satu-satunya kekaisaran. Doktrin Hakko Ichiu ini
kemudian dimodifikasi sebagai alat propaganda dan alat politik untuk mencapai
tujuan pemerintah Jepang. Slogan ini juga diilhami oleh ajaran Shintoisme yang
menerima dan memadukan semua tradisi termasuk kehidupan spiritual yang masuk ke
Jepang, tanpa menghilangkah tradisi aslinya. Hakko ichiu telah menjadi
slogan dan ajaran tentang kesatuan keluarga umat manusia. Ajaran ini
diterjemahkan bahwa Jepang sebagai negara maju bertanggung jawab untuk
membentuk kesatuan keluarga umat manusia dengan memajukan dan mempersatukan
bangsa-bangsa di dunia, termasuk Indonesia. Ajaran Hakko ichiu diperkuat oleh
keterangan antropolog yang menyatakan bahwa bangsa Jepang dan Indonesia
serumpun. Untuk merealisasikan keinginannya itu, maka sebelum gerakan tentara
Jepang itu datang ke Indonesia, Jepang sudah mengirim para spionase untuk
datang ke Indonesia pada tahun-tahun sebelumnya.
Kebijakan
Jepang terhadap rakyat Indonesia mempunyai dua prioritas, yaitu menghapuskan
pengaruh – pengaruh Barat di kalangan rakyat Indonesia demi kemenangan Jepang
dalam perang Asia Timur Raya. Seperti halnya Belanda, Jepang bermaksud
menguasai untuk kepentingan mereka sendiri. Untuk itu, suatu kampanye
propaganda yang intensif dimulai untuk meyakinkan rakyat Indonesia bahwa mereka
dan bangsa Jepang adalah saudara seperjuangan dalam perang yang luhur melawan
Barat. Tetapi upaya propaganda itu sering mengalami kegagalan dengan adanya
kenyataan-kenyataan akibat penduduka Jepang itu sendiri seperti kekacaun
ekonomi.
Pendudukan
Jepang berorientasi ekonomi dengan kebijakan yang sangat menekan dan memeras
rakuat. Dengan demikian, yang terjadi bukan saja perubahan structural,
melainkan aspek-aspek kultural masyarakat di pedesaan Jawa itu. Umumnya Jawa
dianggap sebagai daerah yang secara politis paling maju, tetapi secara ekonomi
kurang penting, sumber dayanya yang paling utama ialah manusia. Sehingga Jawa
dianggap penting dalam memegang kunci pendudukan Jepang di Hindia Belanda.
4.
Sambutan Rakyat Indonesia
Kedatangan
Jepang di Indonesia pada awalnya disambut dengan senang hati oleh rakyat
Indonesia. Jepang dielu-elukan sebagai “Saudara Tua” yang dipandang dapat
membebaskan bangsa Indonesia dari kekuasaan Belanda. Sikap simpatik bangsa
Indonesia terhadap Jepang antara lain juga dipengaruhi oleh kepercayaan ramalan
Jayabaya. Di mana-mana terdengar ucapan “banzai-banzai” (selamat
datang-selamat datang). Sementara itu, pihak tentara Jepang terus melakukan
propaganda-propaganda untuk terus menggerakkan dukungan rakyat Indonesia.
Setiap kali Radio Tokyo memperdengarkan Lagu Indonesia Raya, di samping Lagu
Kimigayo. Bendera yang berwarna Merah Putih juga boleh dikibarkan berdampingan
dengan Bendera Jepang Hinomaru. Melalui siaran radio, juga dipropagandakan
bahwa barang-barang buatan Jepang itu menarik dan murah harganya, sehingga
mudah bagi rakyat Indonesia untuk membelinya.
Simpati
dan dukungan rakyat Indonesia itu nampaknya juga karena perilaku Jepang yang
sangat membenci Belanda. Di samping itu, diperkuat pula dengan berkembangnya
kepercayaan tentang Ramalan Jayabaya. Tentara Jepang juga mempropagandakan
bahwa kedatangannya ke Indonesia untuk membebaskan rakyat dari cengkeraman
penjajahan bangsa Barat. Jepang juga akan membantu memajukan rakyat Indonesia.
Melalui program Pan-Asia Jepang akan memajukan dan menyatukan seluruh rakyat
Asia. Untuk lebih meyakinkan rakyat Indonesia, Jepang menegaskan kembali bahwa
Jepang tidak lain adalah “saudara tua”, jadi Jepang dan Indonesia sama. Bahkan
untuk meneguhkan progandanya tentang Pan-Asia, Jepang berusaha membentuk
perkumpulan yang diberi nama “Gerakan Tiga A”.
Awal kedatangan Jepang di
Indonesia secara umum diterima dan ditanggapi baik oleh masyarakat. Hal itu
disebabkan di samping propaganda yang dilakukan oleh pemerintah Jepang secara
intensif sebelum mereka tiba, yang dikoordinasi melalui Sendenbu (bagian propaganda),
juga dipengaruhi oleh sikap pemerintah kolonial Belanda yang selalu
mempertahankan prinsip ketenangan dan keteraturan (rust en orde) dengan tindakan-tindakannya yang sangat mengecewakan
kaum pergerakan. Di samping itu bagi masyarakat pedesaan di Jawa terdapat
kebanggan terhadap bangsa Jepang yang dapat mengalahkan Sekutu, yang demikian
itu membawa pengharapan pulihnya saat – saat normal yang dinantikannya.
Selain itu, masyarakat
pedesaan Jawa juga dipengaruhi oleh falasafah ramalan Jayabaya, yang secara tak
langsung telah mengarahkan pandangan masyarakat untuk menyambut kedatangan
“wong kuntet kuning saka lor” yang hanya akan berkuasa di Indonesia seumur
jagung”. Kata – kata itu dipahami sebagai suatu kedaan baru akibat perginya
Belanda dan datangnya Jepang. Jepang akan memerintah Indonesia dalam waktu yang
tidak lama, dan sesudah itu bangsa Indonesia akan “merdeka”. Pemahaman terhadap
ramalan yang berkembang seperti telah memberikan harapan akan hari kemudian yag
lebih baik, setidak-tidaknya masa normal yang diharapkannya itu tidak akan lama
lagi. Kartodirdjo menyebutnya sebagai motivasi spikulatif teoritis masyarakat
Jawa terhadap datangnya masa kebahagiaan.
Pemerintahan Jepang pada awal menjalankan kebijakan
pemerintahannya, berpegang pada tiga prinsip utama. Pertama mengusahakan agar
mendapatakan dukungan rakyat untuk memenangkan perang dan mendapat dukungan
rakyat untuk memenangkan perang dan mempertahankan ketertiban umum. Kedua,
memanfaatkan sebanyak mungkin struktur pemerintahan yang telah ada. Ketiga,
meletakkan dasar supaya wilayah yang bersangkutan dapat memenuhi kebutuhannya
sebagai sendiri bagi wilayah selatan. Oleh kariena itulah pemerintah Jepang pada
awalnya senantiasa berupaya mencapai dan kemudian mempertahankan keadaan yang
stabil.
Pada awal pendudukannya,
pemerintah Jepang mengambil dua langkah penting. Peratama menstabilkan kondisi
ekonomi, yang terlihat dari upayanya untuk menguasai inflasi ekonomi,
menetapkan patokan harga bagi sebagian barang dan menangani secara keras
penimbun barang. Kahin menyebutkan langkah itu sebagai langkah menaikkan taraf
sosio-ekonomi yang memaksa pemerintah baru ikut menjalankannya. Kedua Jepang
pada awal pendudukannya mengalami keadaan berlanjutnya ketidakpastian hukum,
sehingga pemerintah Jepang dituntut untuk mengeluarkan aturan produk hukum baru
yang disesuaikan dengan kepentingan pendudukan Jepang di Indonesia. Dalam aspek politik
pemerintahan, berdasarkan berita pemerintan nomor 14 maret 1943,
dibentuk delapan bagian pada pemerintah pusat dan memberikan tanggungjawab
pengelolaan ekonomi pada syu (karasidenan). Pemerintah pada masa pendudukan
Jepang diaktifkan kembali untuk memperkuat dukungan terhadap ekonomi perang.
Karisidenan (syu), berdasarkan udang-undang nomor 27 tentang perubahan tata
pemerintah daerah dan undang-undang nomor 28 tentang aturan Pemerintahan
Karisidenan dan Tokebetsu Si secara prinsip mengarahkan pada pengaturan
ekonomi. Sedangkan, bidang
sosial ekonomi, pemerintah pendudukan Jepang mengadakan pengaturan terhadap
distribusi barang-barang yang dianggap penting untuk kepentingan perang seperti
besi, tembaga, kuningan dan sebagainya yang diatur dengan Osamu Seirei nomor 19
tahun 1944 tentang mengatur pembagian tembaga tua dan besi tua.
Sesuai dengan kebijakan
pemerintah pendudukan Jepang untuk membentuk susunan perekonomian baru di Jawa,
dilakukan politik penyerahan padi secara paksa. Dasar-dasar politik beras
Jepang pada awalnya sebagai berikut :
a. Padi berada dibawah
pengawasan Negara, dan hanya pemerintah yang diizinkan melakukan seluruh proses
pungutan dan penyaluran padi.
b. Para petani harus menjual hasil produksi mereka kepada pemerintah sebanyak kuota yang ditentukan dengan harga yang ditetapkan.
c. Harga gabah dan beras ditetapkan oleh pemerintah
sumber :
1.
Buku
a.
Tim Penyusun.
2017. Buku Siswa Sejarah Indonesia Kelas XI Semester 2. Jakarta: Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan.
b.
Farid, Samsul.
2016. Sejarah Indonesia untuk SMA-MA/SMK
Kelas XI. Bandung: Yrama Widya.
c.
Marwati Djoened
Poesponegoro, dkk. 1975. Sejarah Nasional
Indonesia VI. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. hlm. 2.
d.
Utomo, Cahyo
Budi. 1995. Dinamika Pergerakan
Kebangsaan Indonesia dari Kebangkitan Nasional hingga Kemerdekaan.
Semarang: IKIP Semarang Press hlm. 18
2.
Internet
a.
http://www.dosenpendidikan.net/2015/12/tujuan-jepang-menduduki-indonesia-dan-Propaganda-Jepang-Terhadap-Rakyat-Indonesia.html, diunduh pada tanggal 10 April 2018
